Saya, Bunda Noormiliyani dan Rencana Melarikan diri (3)
“Melarikan diri dari BKD maksudnya” wkakwkakwakwaw. Kita lanjutkan ceritanya. Setelah pada pertemuan pertama saya dapat ceramah dari beliau setelah menawarkan aplikasi e-bulin tertawa, saya bertapa 2 hari. Berjumpa dengan Bidan yang berurusan di BKD, saya pun mendapat sedikit pencerahan tentang buku KIA, yaitu mengisi kohort. Dari penjelasan bidan yang entah siapa itulah saya mendapat ilham untuk menambah module aplikasi e-bulin tertawa ini.

Jika sebelumnya fokus pada proses : input kelahiran (bidan) —–> upload KTP, KK (desa) ——-> Proses permohonan pembaharuan data KK dan Akte Lahir (disdukcapil), maka pada proses awal sebelum input kelahiran ditambahkan module pemeriksaan, yaitu bidan dapat memberi tanda warna (hijau, kuning, merah) terhadap ibu hamil yang memeriksakan diri berdasarkan hasil pengukuran / pengecekan di Buku KIA / Kohort. Kohort adalah sumber data pelayanan ibu hamil yang bertujuan untuk mempermudah bidan dalam mengidentifikasi masalah kesehatan ibu dan dituangkan kedalam aplikasi e-bulin tertawa ini. (Kelak kemudian kita tahu Kemenkes akhirnya membuat aplikasi Kohort Online https://ekohort.kemkes.go.id/login.php).
2 (dua) hari setelah pertemuan pertama, saya datang lagi untuk menghadap beliau. Kembali naik ke lantai 2 kantor bupati, ke ruang kerja beliau, antri untuk orang terakhir wakwkawkakw. “Ada apa lagi?” tanya beliau, lalu pelan-pelan saya jelaskan sebagaimana paragraf diatas kepada beliau. Disitu beliau baru tertarik dan mulai menerima usul saya tersebut. Tibalah pada pertanyaan yang saya tunggu-tunggu “Nah, kalau kaini ok bagus aja, lalu pang kayapa lagi?” (nah, kalau begini bagus, lalu bagaimana lagi?) maka dengan panjang lebar saya menjawab sesuai dengan skenario saya :
“Ibu, untuk membuat ini tentu perlu waktu, baik perancangan, ujicoba sampai testing dilapangan. Tentu tidak tiba-tiba langsung seluruh Desa menggunakan, bisa dari beberapa desa dalam satu kecamatan dulu untuk trial n error, baru diperluas-diperluas. pun ini melibatkan beberapa SKPD, seperti Dinas Kesehatan sebagai atasannya user bidan, DPMD untuk user aparat desa dan Disdukcapil. Belum lagi karena ini lintas skpd siapa yang bertanggungjawab mengampunya? mungkin bappeda juga harus terlibat. Untuk urusan teknologinya pastinya itu jadi domain dari diskominfo. Sedangkan saya ini cuma pegawai BKD bu, yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal seperti ini. Kalau boleh saya meminta mungkin baiknya saya dimutasikan saja dulu ke Diskominfo biar saya bisa fokus mengerjakan ini, karena tugas-tugas saya di BKD tentu akan terganggu jika saya mengerjakan aplikasi ini dalam jangka panjang” Beh, keluar sudah kata-kata saya untuk meyakinkan beliau kalau saya harus keluar dari BKD dan pindah ke Diskominfo (walaupun sebenarnya maksud aslinya biar saya kabur dari tanggungjawab pengadaan kain PDH PNS di BKD wkakwakwkaw). Tapi yang namanya Bupati ya pasti lebih pintar dari saya wkawkawk, beliau menjawab dengan sangat bijak tapi tidak bisa saya bantah “Kaini aja, ikam gawi dulu sampai tuntung, kena bila sudah beres aku yang memadahi hardian supaya memindah ikam ke diskominfo” (Begini saja, kamu kerjakan dulu sampai selesai, nanti kalau beres saya akan minta ke Hardian (Kepala BKD saat itu) untuk memutasi kamu ke Diskominfo). Skak mat alias mati langkah lah saya wakwkawaw. Sudah tidak bisa kabur dari pengadaan kain, bertambah lagi kerjaan yang saya bikin-bikin sendiri wakwkawk.
Maka pertemuan itu ditutup dengan senyum kecut saya melangkah keluar dari pintu ruang kerja beliau wkawkakwakwkawkawkakwkwaw.

Recent Comments