Saya dan Bunda Noormliyani Tahun 2019 (2)
Perjumpaan saya pertama kali dengan bunda Noormiliyani adalah pada pertengahan Tahun 2019. Memang waktu itu sebenarnya bukan dengan niat tulus suci wkawkawkaw. Begini kisahnya :
Maret 2019, disamping jabatan saya sebagai Pranata Komputer Pelaksana Lanjutan, saya juga diberi tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Sub Bagian Kesejahteraan Pegawai (Kasubbid Kespeg) Badan Kepegawaian Daerah Kab. Barito Kuala. Ada satu kegiatan di Subbid Kespeg yang membuat saya agak “ngeri” yaitu Pengadaan Pakaian Dinas Harian Pegawai Negeri Sipil (PDH PNS). Ya namanya pengadaan bagi yang kurang-kurang ilmu seperti saya ini jelas menjadi sesuatu yang agak-agak ngeri.
Sebagai seorang Pranata Komputer yang ingin lari dari kenyataan tersebut diatas maka kemudian saya teringat dengan salah satu file dokumen yang pernah saya baca pada tahun 2015 yaitu sebuah program Pelayanan Publik yang berjudul “Bulin Tertawa, Ibu Bersalin, terdata dan membawa akta”. Intinya itu program untuk ibu-ibu hamil, yang kemudian didata dan apabila melahirkan nanti langsung mendapatkan Akta Lahir. Saya kemudian berinisatif untuk membuat sebuah aplikasi untuk membantu menjalankan program tersebut yang saya beri nama “E-Bulin Tertawa”.
Saya buatlah aplikasi demo e-bulin tertawa tersebut dan dengan nekat saya bawa sendiri menghadap Bupati ibu Noormiliyani di lantai 2 kantor Bupati, ruang kerja beliau. Saya antri sebagaimana tamu lainnya, yang kemudian disambut dan ditanyakan oleh ADC beliau, yang kelak saya kenal dan saya panggil dengan sebutan Ka Monic. Beliau bertanya “Mau menghadap Bupati? untuk keperluan apa?” Sebagai pegawai BKD yang tidak ada hubungannya dengan aplikasi yang saya bawa tersebut saya cuma bisa menjawab “Mau konsultasi pribadi saja”. Dan setelah sekian waktu akhirnya saya didipanggil masuk juga.
Tanpa ada basa-basi, beliau langsung bertanya “Ada apa?”, kemudian sedikit basa basi saya jelaskan maksud kedatangan saya bahwa saya membuat sebuah demo aplikasi e-Bulin Tertawa dengan tujuan sebagai media memperlancar Program Pelayanan Publik yang berjudul “Bulin Tertawa, Ibu Bersalin, terdata dan membawa akta” tersebut.
“Apa hasilnya?” Tanya beliau. Saya jawab sesuai dengan bayangan saya “Nanti, kalau anaknya lahir dan sudah diberi nama, mereka akan dapat langsung Akta lahir, dan Kartu Keluarga yang sudah ada nama anaknya”. Apa jawab beliau? “Ah, kada perlu aku kaya itu, itu sudah seharusnya, itu lain yang diperlukan. Aku ini lagi mencari cara kayapa caranya menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, itu yang ku perlukan, kada perlu aku dokumen-dokumen kaitu, itu harusnya sudah kaya itu ngarannya pelayanan tu” ucap beliau.
Dan saya pun bersalaman serta permisi keluar dari ruangan beliau. Wawkakwakwakwakwkawkakwakw. Apakah saya sedih? Apakah saya marah? apakah saya kecewa? Ternyata tidak. Dibalik kata-kata beliau yang sepertinya terdengar ketus tersebut, saya menyadari satu hal (dari dua hal yang kemudian meyakinkan saya, akan diceritakan ditulisan berbeda) bahwa beliau punya visi dan misi yang tulus untuk memimpin dan membangun Barito Kuala, karena jujur saja saya adalah orang yang pesimis ketika beliau mencalonkan diri menjadi Bupati setelah suami beliau, Pa Hasanuddin Murad 2 priode. Saya pikir beliau cuma memanfaatkan nama besar Pa Hasan, tanpa ada visi misi dan tujuan yang jelas. Tapi hari itu saya menyadari penilaian saya salah,beliau punya tujuan. Dan tujuan beliau lebih besar dari apa yang saya bayangkan dengan aplikasi e-bulin tertawa tersebut, dan saya yakin itu benar, karena Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi pada saat itu memang tinggi dan jujur saja sepupu saya juga beberapa kali kehilangan bayi pada saat melahirkan.

Recent Comments