Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Perjalanan di Sumbar 2024

Istilah Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah sudah sering saya baca di artikel-artikel. Istilah yang dapat diartikan sebagai aforisme terkait pengamalan adat dan Islam dalam masyarakat minangkabau. Dan pada akhirnya Tuhan mengizinkan saya menjejakkan kaki di ranah minang, Provinsi Sumatera Barat melalui rombongan Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan.

Sumatra Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota yang awalnya saya pikir dekat-dekat saja jaraknya wkawkakw. Bayangan saya kan ke Sumbar, mendarat di Padang lalu berfoto di Jam Gadang sudah cukup wakwkawkaw. Rupanya jam Gadang itu adanya di Bukit Tinggi dan itu sekitar 3 jam dari Padang wakwkawwkkaw. Tapi ya pengalaman lah, kalau tidak begitu mana tau kan daerah orang.

Melihat aktivitas Pariwisata nya ada beberapa hal yang menarik bagi saya, diantaranya adalah :

  • Memang antar tempat wisata (ODTW) itu berjauhan, bahkan antar kabupaten/kota, namun hal ini memang direncanakan karena program Sumbar yang mengembangkan destinasi unggulan di setiap kab/kota.
  • Adanya Pusat Dokumentasi dan Kebudayaan Minangkabau di Kab. Padang Panjang, atau Istana Pagaruyung menjadi daya tarik yang menarik karena menjadi nilai tambah wisatawan mengetahui budaya minangkabau. Disana bisa melihat dan memasuki rumah gadang, dokumentasi budaya masyarakat minang melalui foto-foto, dan memakai pakaian adat minangkabau, dan hal ini sangat menarik bagi orang luar. Mengapa itu jadi menarik? karena Keindahan alam setiap daerah tentu punya keunggulan masing-masing, namun kekayaan budaya akan jadi daya tarik yang spesifik dan berbeda bagi tiap-tiap daerah. “Menjual” kekayaan budaya ini bisa jadi salah satu strategi meningkatkan perkembangan pariwisata di daerah.
  • Pariwisata Halal, istilah yang kadang jadi kontroversi, atau dianggap diskriminasi dan menghalangi wisatawan global untuk datang ke suatu tempat. Tetapi ternyata Sumbar berhasil dalam mengembangkan Pariwisata nya lewat Pariwisata Halal. Saya pikir wisata halal itu masalah makanan wkawkakw, tapi ternyata wisata halal itu bagaimana kita melayani orang (khususnya muslim) dari hal yang paling sederhana, kata beliau ya misalnya dari bagaimana menyediakan tempat wudhu yang nyaman buat wisatawan, itu adalah bagian dari pariwisata halal yang harus dipikirkan.
  • Wisatawan Mancanegara menurut data banyak yang datang ke Sumbar, dan saya merasa wkawkaw karena ketika singgah disatu tempat kadang bus yang selanjutnya datang itu bahasa melayu semua dan di depan bus nx ada tulisan “Malaysia” wkawkakww. Bagaimana bisa? ya ternyata salah satu faktornya adalah Bandara Internasional Minangkabau memiliki rute langsung ke Kuala Lumpur. Artinya memiliki “Bandara Internasional” dengan rute langsung ke “Luar Negeri” akan sangat membantu dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, semoga suatu saat Bandara Syamsudin Noor kembali jadi Bandara Internasional dan ada maskapai langsung dari dan Luar Negeri heheheh

Dan sebagai penutup, salah satu pencapaian 2024 ini adalah bisa menjejakkan kaki di luar pulau jawa wkwakwkawkawkw. Terima Kasih,

  • December 23, 2024