Kisah Toilet dalam Pembinaan Kab/Kota Sehat

Banjarbaru, 25 November 2024 saya ikut mendampingi Sekdis dan kasubbag Umpeg menghadiri undangan dari Bappeda Prov. Kalsel. Rapat Pelaksanaan Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat (KKS) Tahun 2025. Ya duduk dan mendengarkan lah intinya, cuman ada ilmu baru yang saya dengar, yaitu tentang toilet wkawkakwa.

Toilet, ya tempat kita buang air itu ternyata adalah something banget wkawkakw. Jadi slide pertama yang menarik saya adalah istilah SBS dan BABS. SBS adalah singkatan dari Stop Buang Air Besar Sembarangan, sedangkan BABS adalah singkatan dari Buang Air Besar Sembarangan:
SBS : Kondisi ketika masyarakat dalam suatu komunitas tidak lagi membuang air besar sembarangan, melainkan menggunakan jamban yang sehat.
BABS : Tindakan membuang kotoran tinja di tempat terbuka seperti ladang, hutan, sungai, pantai, dan lainnya. BABS dapat mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara, dan air, serta menyebarkan penyakit

Dan ternyata di Kalimantan Selatan memang ada yang sudah 100% SBS tetapi banyak juga yang masih tidak 100% apalagi daerah yang berada di wilayah perairan seperti sungai. Ciri mudahnya menilai sudah SBS atau belum ya kita lihat apakah di sungai masih ada jamban atau tidak wkakwakwakw. Begitulah kira-kira penilaiannya.

Nah yang itu tadi adalah permasalahannya, sekarang bagaimana solusinya? pikir saya yang tidak tau apa-apa ini tinggal di razia saja dari tingkat rt sampai desa/kelurahan, tidak boleh ada jamban lagi di pinggir sungai, selesai…..pikir saya wakwkakw.

Ternyata tidak semudah itu ferguso, pimpinan rapat yang sudah bekerja dari tahun 1996 sampai detik ini belum beres-beres juga masalah jamban itu kata beliau wakwkakwakw, artinya ini masalah toilet kompleks sekali. Ada masyarakat yang disuruh membongkar jamban, diberi bantuan seperangkat alat toilet justru menolak dengan alasan “Ngalih kena membawa banyunya salang mancibuk di sungai dibawa ka rumah” (repot nanti harus mengambil air di sungai lalu dibawa ke rumah). Maksudnya kalau di jamban atas sungai kan airnya langsung diambil dari sungai, tidak perlu berat-berat membawa ke rumah yang biasanya menyeberang jalan dulu setelah dari sungai.

Nah, sekarang bertambah masalahnya, kalaupun diberi bantuan seperangkat alat toilet, apakah mereka punya aliran air ke rumah? maksudnya bagaimana mengalirkan air ke rumah mereka? kalau ada PDAM ya jelas enak, kalau tidak ada??? nah itu kan masalah lagi, berarti harus memikirkan penyediaan air bersih, mengalirkannya ke rumah-rumah penduduk.

Kalaupun toilet sudah disediakan, aliran air sudah disediakan apakah menjamin mereka akan berpindah dari jamban sungai? Belum tentu. Karena ini masalah mental. Selama belum sadar arti pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, bagaimana bahayanya mandi, minum dan mencuci dengan tercampur dengan hasil BAB dan BAK wakwkawkakw.

Bagaimana merubah mental itu? mental yang penting gampang yang penting mudah, tanpa memikirkan resiko terhadap kesehatan, maka ya dimulai dari anak-anak, lewat mana? lewat pendidikan. Kalau mereka sekolah, mendapat contoh di sekolah bagaimana BAB dan BAK yang baik dan benar, menikmati fasilitas toilet dan sanitasi yang standar, insya allah pola pikir mereka akan berubah dan pelan-pelan bisa memaksa orang tuanya merubah cara pandang terhadap toilet.

Sekarang apakah mereka sempat memperhatikan hal itu di sekolah? wkakwakw, kadang-kadang kita terlupakan dengan hal-hal kecil seperti toilet ini. Belum lagi beban kerja guru yang banyak dipenuhi dengan masalah administrasi. Ya toilet juga ternyata nyangkut sampai ke guru dan sekolah.

Ya, pertemuan ini jadi membuka mata saya yang seperti katak dalam tempurung selama ini wkawkakw, bahwa banyak sekali urusan yang jadi domain pemerintah untuk melayani masyarakat, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melayani.

Oh iya lupa,satu lagi, mungkin kita belum sadar bahwa sebenarnya rasio toilet perempuan sebailknya lebih banyak dari toilet laki-laki. Kenapa? ya karena perempuan lebih lama menggunakan toilet, tidak seperti laki-laki yang langsung cusssss….finish wawakwkawkawkakw

  • November 26, 2024