Kayapa Janji Ikam Tanya Bunda Noormiliyani (4)

Saya yang sudah patah arang pada akhirnya tidak pernah mengutak-atik aplikasi itu lagi. Tentu tidak mungkin bagi saya waktu itu datang keliling-keliling ke SKPD terkait untuk menjelaskan hal ini sementara tidak ada legacy dari Bupati wkwakwkakw. Ya dan saya jalani kehidupan sehari-hari dengan berkutat pada urusan manajemen kepegawaian di subbid Kespeg saat itu.

Beberapa minggu berlalu, teman SMA saya yang kebetulan mengurus urusan rumah tangga pimpinan menelpon saya, atau saya yang menelpon lupa juga. Dari pembicaraan kesana kemari dia mengajak saya untuk ke rumah dinas Bupati karena kebetulan mau ada rehab sedikit dan yang merancang nya juga adalah teman kami semasa SMA yang saat itu lulusan Arsitektur. Pertanyaan saya kepadanya adalah “Ada ibunya lah?” (ada ibu bupatinya gak?). Kemudian dia jawab tidak ada maka saya berani kesana. Naik ke lantai 2, bertemu mereka berdua, dengan tukang dan beberapa orang lainnya. Itu adalah hari dimana pertama kalinya saya naik ke lantai 2 kediaman beliau. (Kesempatan naik ke lantai 2 itu baru kembali di akhir-akhir tahun 2022 wkakwakwkwaw. menjelang berakhirnya masa jabatan beliau).

Tiba-tiba tidak disangka-sangka beliau datang, naik ke lantai 2, dengan langkah tegapnya langsung bertanya kepada teman saya “Bagaimana?” lalu beliau dan mereka mulai berbicara tentang rencana renovasi itu. Saya yang tidak bisa lari hanya bisa menunduk sambil merendahkan baju agar nametag saya tidak terbaca dan berharap beliau tidak kenal atau lupa dengan saya.

Hal menarik yang menguatkan saya bahwa beliau “orang benar” sebagai Bupati selain pada saat perkenalan aplikasi e-Bulin tertawa yang tertolak sebelumnya itu terjadi pada hari itu. Setelah selesai masalah rehab merehab renov merenov, beliau berbicara dengan nada tingginya, bercerita bahwa sebelumnya beliau bertemu seseorang tentang bagaimana caranya mengentaskan desa tertinggal, desa berkembang agar menjadi desa maju atau bahkan desa mandiri. Saya lupa analoginya, tetapi kurang lebih seperti ini : penilaian desa tertinggal, berkembang, maju dan mandiri dinilai dari beberapa indikator. Anggap saja sebuah desa indikatornya ada jembatan, ada pos kamling dengan poin masing-masing 5. Jadi Jika ada jembatan maka (5) dan ada pos kamling (5) maka poinnya 10. Jika tidak ada jembatan, maka fasilitas di pos kamling itu di tambah misalnya ada TV dan ada AC sehingga nilainya Jembatan (0) dan Pos Kamling (10) maka hasilnya akan sama menjadi 10. Mendengar usulan tersebut beliau pun memberi komentar dengan nada tegas : “Kalau seperti itu tidak setara namanya, saya mau membangun batola setara, kalau desa harus punya jembatan ya harus dibangun jembatannya, bukan dihias pos kamlingnya, kalau sekedar mengakali angka-angka indikantor tidak perlu bertahun-tahun untuk membuat desa semuanya jadi desa maju, tetapi bukan seperti ini yang saya mau. Itu namanya pembangunan bohong-bohongan”. Nah itulah kali kedua saya mendengar statment beliau tentang seperti apa Batola yang beliau inginkan. Semenjak itu saya yakin dan percaya dengan kerja keras beliau adalah untuk Barito Kuala.

Tapi cerita tidak berakhir di obrolan itu, tiba-tiba beliau menatap saya dan berkata “Ey, kayapa? janji ikam mana?” (Eh, bagaimana, mana janji kamu?). Dengan tanpa sadar saya berkata “Hah, ingat kah pian bu?” (hah, ibu masih ingat ya? ) dan saya pun langsung diketawakan oleh mereka-mereka yang duduk dimeja panjang itu. Padahal saya sudah tidak mengerjakan lagi, dan janji itu pada akhirnya tidak pernah terealisasi, tapi saya terkejut beliau ternyata ingat saya dan janji saya itu. wkawkawkakw. nasibbbbbb..nasibbbb.

  • September 25, 2024