Rumpiang, Facebook, Lagu Upacara, dan Foto (1)

Sesuai dengan alasan lahirnya blog ini, saya ingin menceritakan orang-orang luar biasa yang pernah saya saksikan kiprahnya dan menjadi bagian spesial dalam perjalanan hidup saya. Salah satunya dalam episode ini adalah H. Hasanuddin Murad (alm). Kali ini episode RUMPIANG.

Pertama kali saya melihat beliau adalah tahun 2008 bulan juli, ketika pameran hari otonomi daerah di Tanah Bumbu. Saat itu saya, bersama pa Birin dan Pa Eko (alm) diminta oleh Pa Supriyono (alm) yang saat itu masih di Bappeda batola untuk mengikuti pameran dalam kegiatan tersebut. Cerita apa ada bagaimana pamerannya mungkin di lain tulisan akan saya ceritakan.

Pemandangan pertama saya dengan beliau adalah ketika sore hari, H-1 sebelum Presiden SBY datang ke Tanah Bumbu. Ketika Menteri Hatta Rajasa (rasanya tahun 2008 itu adalah Mensesneg) datang mengunjungi stand-stand pameran saat itu, masih suasana santai, belum mulai acara. Beliau keliling-keliling bersama sang Istri. Tiba-tiba saya melihat pa Hasan berada di samping Hatta Rajasa, dan kemudian Hatta Rajasa bertanya dengan suara cukup nyaring “Hei, jadi apa kamu sekarang?” tanyanya kepada pa Hasan. Pa Hasan menjawab sambil tersenyum “jadi bupati”. Maka langsung lah pa Hatta Rajasa menggandeng bahu pa Hasan dan tertawa bersama-sama, “waduh kamu sekarang jadi bupati ya”. Ya saya yang memandang dari belakang hanya tersenyum melihat betapa besarnya badan pa Hatta Rajasa dibanding orang yang saat itu digandengnya.

Pemandangan kedua adalah saat peresmian Jembatan Rumpiang yang dilaksanakan di atas panggung utama hari otonomi daerah tersebut, dan saya melihat beliu diatas bersama Presiden SBY, Menteri PU, dan Gubernur Kalsel, Rudi Arifin, memencet sirine peresmian. Ya akhirnya ke Marabahan bisa lewat jembatan tidak pakai kapal ferry lagi.

Nah, pemandangan ketiga ini lebih berkesan sebenarnya wkawkkwwkakw. Saat itu acara sudah selesai, saya beli es-es lah minuman di luar. Waktu itu tentara menjaga jalan / jalur untuk mobil presiden lewat. Saat itu Pa Hasan berjalan di jalanan tersebut, bersama ajudannya yang sedang sibuk menelpon entah siapa. Tiba-tiba ada tentara yang melihat beliau berjalan disana dan langsung menegur “Awas-awas, ini jalan presiden”. Maksudnya mungkin hati-hati, jangan sampai menghalangi presiden kan nanti lewat sana, sesuai protokol. Apa yang pa Hasan lakukan? beliau turun, berjalan di bahu jalan, di atas rumput dan melewat beberapa potongan batang pohon, santai tanpa komentar, sambil mengisap rokok pastinya, wkawkawkakwa. Ya beliau santai saja, tidak protes, tidak brdebat juga, ah simpel sekali saya melihatnya. Kelak kemudian ketika saya jadi PNS di Batola, akhirnya saya melihat kesimpelan yang lain wkawkakwa.

  • August 23, 2023